Lifestyle

PERSATUAN DOKTER OBSTETRI DAN GINEKOLOGI BERSAMA BKKBN SEPAKAT MENINGKATKAN PELAYANAN KB DI RUMAH SAKIT (PKBRS)

Jakarta, Newsbisnis.net.

“Kalau tidak siap dan tidak penting jangan hamil. Karena untuk hamil butuh kesiapan materi, pendidikan, mental dan lain-lain,” tegas Hasto saat menerima audiensi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) di ruang Kepala BKKBN, Jakarta (28/01).

Audiensi dilakukan dalam rangka persiapan acara PIT HOGSI (Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia) ke-XIII.

Pernyataan Hasto bukan tanpa alasan, karena berbagai permasalahan akan muncul ketika kehamilan yang tidak diinginkan terjadi. Dari hasil riset POGI, sebanyak 40% pernikahan usia anak kini meningkat dan hal ini terjadi karena keinginan anak itu sendiri untuk menikah dan mempunyai anak. POGI sendiri menurut Ketua Panitia PIT HOGSI, Dr.dr Dwiana Ocviyanti, SpOG(K), MPH, mempunyai modul “Remaja Cerdas, Generasi Emas” yang isinya tidak melulu tentang organ-organ reproduksi namun juga tentang efek-efek sosial yang terjadi apabila terjadi pernikahan usia anak dan kehamilan di usia anak seperti misalnya putus sekolah dan lain-lain.

“Angka kematian ibu sekitar 15 ribu pertahun dan kematian karena kanker serviks sekitar 15 ribu juga pertahun. Nah ini kita harus menggandeng, kan strateginya harus dari bawah untuk mengatasinya. Anak-anak kita itu early sexual active, umur 12-14 saja 4% sudah hamil. Makin mudah anak terpapar dengan aktifitas seksual makin cepat dan makin ganas HPV-nya karena daya tahan tubuh ibunya makin jelek. Anak umur 10-12 yang sudah terpapar aktivitas seksual itu lebih mudah terkena karena asam basanya (organ reproduksi) belum baik,” ungkap Dwiana. Makin kecil umur anak saat hamil, maka makin tinggi juga risiko untuk terkena preeklampsia.

Selain itu, Kepala BKKBN dan POGI sepakat bahwa tidak boleh ada ibu yang keluar rumah sakit pasca melahirkan lepas dari alat kontrasepsi. Karena penyebab kasus kematian ibu yang tertinggi ada 3 yaitu hemorrhagic postpartum (HPP), preeklamsia, dan medical complication. Apabila seorang ibu yang mempunyai riwayat anemia maka pemakaian alat kontrasepsi harus disesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Misalnya dengan memberikan pil progestin (KB) untuk menghentikan menstruasi sebagai salah satu cara mengatasi anemia. Jadi KB tidak hanya sekedar alat kontrasepsi namun juga bisa menaikkan HB si ibu.

Maka dari itu Hasto berencana untuk mengaktifkan kembali Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit (PKBRS) untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Hal ini disambut baik oleh POGI yang mempunyai Konsultan Obginsos yang mempunyai peran untuk memberi advokasi kepada para pengambil kebijakan dalam mengidentifikasi, menganalisis, menyusun dan melaksanakan program kesehatan reproduksi serta konsultasi tentang perencanaan keluarga sejahtera. Konsultan Obginsos akan diturunkan di rumah sakit – rumah sakit di Kabupaten dan akan menjadi lead untuk Kabupaten. Hingga kini jumlah konsultan Obginsos sejumlah 325 orang.

PIT HOGSI ke-XIII bertema “Peran HOGSI dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan di Rumah Sakit”. Rumah sakit dibenahi, mulai dari masalah preventif, pelayanan, SDM, masalah-masalah yang berhubungan dengan BPJS, dan juga meningkatkan kualitas rumah sakit. Selain itu bagaimana caranya di rumah sakit konseling pelayanan KB pasca melahirkan bisa dilakukan lebih baik. Fokus HOGSI adalah mendekati pasien dengan cara atau upaya yang kuat agar pasien tidak lepas dari kontrasepsi. Salah satu upaya tersebut adalah adanya pokja yang membuat Panduan Nasional Praktik Kedokteran (PNPK) dari pra konsepsi, proses ANC (antenatal care) sampai pasca persalinan.

Selain menggandeng para Obgyn, Hasto juga mengatakan akan merangkul Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dalam menyukseskan program BKKBN. Karena Poli KB di rumah sakit sangat berpengaruh terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi. Hasto juga berharap bisa membuat membuat sistem di bawah yang terintegrasi dan kemudian menjadi bagian inovasi untuk menurunkan angka kematian bayi.

PIT HOGSI direncanakan akan diselenggarakan pada April 2020 di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *